Rastri Rara

doc: rarasansekerta

-

Setiap kali aku berkunjung ke suatu tempat, tak jarang pikiranku membawaku pada sebuah diskusi yang sama. Bagaimana jika suatu saat aku memutuskan untuk menikah, apakah aku sudah benar-benar siap? Is he the one? apa ilmu ku sudah cukup? Apa kami akan mampu menghadapi masalah-masalah yang tentu telah menanti di depan?. Sayangnya untuk ada pada titik itu aku tidak tahu pasti berapa lama waktu yang perlu ditempuh. Sepertinya bukan dalam waktu dekat, entahlah. Lha wong saat ini saja aku masih belum khatam menata hidupku. Belajar jadi manusia yang stabil, serta mampu menjadi manusia yang bijak... semoga. Memasuki babak baru setelah lulus kuliah membuatku menyadari banyak hal, salah satunya adalah apa yang dalam bahasa Jawa disebut sumeleh. Kalau dipahami lebih dalam, sikap sumeleh berjalan linear dengan filosofi stoikisme, sebuah aliran pemikiran yang muncul pada masa Yunani dan Romawi Kuno. Stoikisme sejatinya mengajarkan kita untuk berusaha tetap tenang dalam berbagai macam kondisi. Caranya melalui penguasaan diri. Sepertinya omonganku terlalu muluk-muluk, tapi percayalah itu yang memang ingin aku sampaikan.  Mengutip penjelasan Marissa Anita dalam Greatmind berjudul On Marissa's Mind: Stoikisme, Filosofi Anti Cemas - Bagian 1, ia mencoba membuka penjelasan dengan kata-kata dari teolog berikut ini: 

"Berikan saya ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kebijaksanaan untuk tahu perbedaan antara keduanya" - Reinhold Niebuhr. 

Aku suka kata-kata tersebut, damai. Pertemuanku dengan diri sendiri dan kesadaran bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan adalah titik dari kelelahan yang tak berujung. Ternyata hidup itu memang menyenangkan, tapi juga melelahkan. Semakin dewasa, secara autopilot kita jadi bisa membedakan dan memilah, mana yang bikin lelah tapi akan berdampak positif bagi hidup kita, dan mana hal yang bikin lelah namun sebetulnya bisa kita tinggalkan saja. Yang aku tau, hidup itu sama dengan kita mengumpulkan pengalaman. Tempaan akan selalu ada dan nggak menutup kemungkinan di depan bakal ada hal yang jauh lebih melelahkan lagi. Aku jadi berfikir, di fase ini aja perlu banyak banget negosiasi sama diri sendiri. Kalau kita nyerah sama tempaan yang ada, berarti kita kalah sama situasi, kita pun juga kalah sama ego. Padahal tempaan itulah yang membuat kita semakin kuat seiring berjalannya waktu. Untuk dapat berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, sikap sumeleh sangat membantuku untuk tetap waras. 


Rara Rastri
Semarang, 21 ‎Juli ‎2021

Berbagai Pilihan Kelas di Skill Academy by Ruangguru

“Tahun 2020 ditutup dengan pembelajaran bahwa selalu ada peluang di setiap kesulitan. Semoga di tahun 2021, kesempatan-kesempatan emas terbuka lebar bagi kita semua”

Kutipan tersebut aku tulis melalui akun profesional milikku persis satu bulan yang lalu. Perbincangan panjang tentang hari depan nan luas selalu menarik buatku. Sebagai mahasiswi jurusan Sejarah di salah satu universitas negeri di Semarang, banyak sekali miskonsepsi dari sekitar yang aku terima. Contohnya seperti mahasiswa sejarah belajarnya hanya hapalan ya, prospek kerja tidak jelas, masa depan suram dan masih banyak lagi miskonsepsi yang barangkali tidak sampai hati aku menulisnya. Well, sejujurnya itu yang pada akhirnya menjadi bahan bakarku dalam upaya mencapai keberhasilan di masa mendatang. Ada keinginan yang sangat kuat untuk memberikan edukasi, sekaligus mematahkan miskonsepsi tentang jurusan yang telah lama aku tekuni tersebut. Bagiku, satu-satunya jalan yang dapat aku ambil adalah dengan membuktikannya. Talk less do more. Sebagai informasi, kami belajar banyak mata kuliah seperti sejarah Indonesia hingga sejarah dunia, sejarah agraria, maritim, gender, ilmu filsafat, bahasa belanda, teknik jurnalistik, metode pengajaran sejarah, antropologi sampai sosiologi. Penekanan kompetensi jurusan sejarah adalah di bidang kepenulisan. Dari keahlian menulis tersebut pilihan profesi yang muncul meliputi peneliti, pengajar (dosen), jurnalis, budayawan, bahkan konsultan sejarah. Gimana, menarik bukan?.

Sebagai mahasiswi tingkat akhir yang saat ini berada pada masa transisi dalam memasuki dunia kerja, idealisme memang dibutuhkan namun ada kalanya kita perlu menaikkan porsi realistis dalam batas-batas tertentu. Masa pandemi memberikan tamparan keras buatku, target lulus meleset jauh akibat terkendala sumber penelitian yang sifatnya rahasia, dan untuk mendapatkannya harus melalui prosedur panjang yang tidak sebentar. Pada saat itu, instansi terkait belum memberikan  akses terhadap arsip yang aku butuhkan akibat pandemi. Hal tersebut yang pada akhirnya mengharuskan diriku memutar otak, mencari cara supaya tetap produktif, menyiapkan diri sedini mungkin untuk mengahadapi dunia setelah lulus, sembari menyelesaikan hiruk pikuk perskripsian. WFH (Work From Home) paling awal yang resmi dilaksanakan pada 15 Maret 2020 membuatku memiliki banyak waktu luang. Hikmahnya adalah semakin banyak buku yang aku baca,  semakin banyak ilmu-ilmu baru yang aku pelajari, dan kesadaran akan mempersiapkan karir menjadi hal vital yang masuk daftar resolusiku pada tahun 2021. Menyadari betul bahwa karir itu perlu dibangun, maka persipan yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengeksplore diri serta berupaya meningkatkan skill (baik hardskill maupun softskill). Bagiku, usia 20-an adalah masa dimana kita perlu memaksimalkan energi, pikiran dan kemampuan, totalitas atau tidak sama sekali. Usia 20-an bak mesin kendaraan baru, kondisinya masih bagus dan memungkinkan untuk kendaraan bekerja dengan maksimal. Atas dasar itu, upaya untuk meningkatkan skill terutama pada usia krusial sangat perlu dilakukan, salah satunya adalah melalui Skill Academy.

Perkenalanku dengan Skill Academy dimulai pada Oktober tahun 2020 lewat sebuah postingan di Instagram. Lantas segera aku buka website https://skillacademy.com/ dan kudapati kelas tentang jurnalistik. Kecintaanku terhadap bidang tesebut membuatku tertarik untuk mempelajari lebih dalam tentang bagaimana cara menulis berita dengan baik dan benar. Pada awal Desember aku memutuskan untuk mengambil kelas jurnalistik sebagai kelas pertamaku di Skill Academy, lalu sesegera mungkin aku klik tumbol ‘pilih kelas’, menunggu instruksi berikutnya dan tak lupa menyiapkan biaya sesuai harga yang tertera. 
doc : rarasansekerta
-
Sebagai homo socius, manusia tidak dapat hidup sendiri. Ia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk berkelompok, saling berinteraksi dan membutuhkan orang lain, sehingga dari hal tersebut terbentuklah relasi antara manusia. Karakteristik ini sejatinya telah terlihat sejak zaman purba, dimana manusia pada saat itu secara alamiah akan bersama koloninya membentuk kelompok kecil dalam hidupnya (sedikitnya 2-3 orang) baik pada saat ia menetap ataupun dalam kondisi nomaden. Selain itu, diketahui juga terdapat sistem pembagian kerja berdasarkan gender. Laki-laki bertugas berburu, sementara perempuan bertugas mengolah makanan, mengurus anak, dan mengajari anak cara meramu makanan (domestik). Apabila dilihat dari perspektif historis, hal yang demikian dapat diterima karena hal tersebut terjadi secara alamiah mengingat kondisi fisik, lingkungan dan urgensi pada masa itu, yang memungkinkan terjadinya pembagian kerja dibidang domestik untuk perempuan dan non domestik untuk laki-laki. Dalam sejarah, kita mengenal konsep keberlanjutan, konsep inilah yang dapat digunakan untuk menggali serta mengidentifikasi akar masalah dari fenomena pada masa sekarang, sehingga kita dapat mencari solusi yang tepat atas suatu permasalahan. Apabila ditarik pada masa kini, tatanan, pola pikir dan konstruksi sosial masyarakat di Indonesia yang patriarkis terbentuk karena proses sejarah yang panjang. Selayaknya manusia yang akan terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang ia lalui, karakteristik masyarakat suatu negara juga demikian. Konsep pembagian kerja berdasarkan gender yang cenderung menempatkan perempuan di sektor domestik dan laki-laki di sektor non domestik menjadi tidak relevan lagi mengingat kondisi dan tantangan pada masa kini yang semakin kompleks dan mengutamakan kompetensi. Seorang filsuf asal Yunani bernama Aristoteles menyampaikan gagasannya tentang animal rationale. Berdasarkan konsep animal rationale, ia meyakini bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain adalah rasio atau akal budi yang dimiliki. Dengan akal budi tersebut manusia (baik laki-laki maupun perempuan) dapat berpikir dan berkemampuan untuk mencerna pengalaman, merenung, merefleksi, menalar, dan meneliti dalam upaya memahami lingkungannya. Hal inilah yang secara perlahan mengubah cara pandang kita soal pandangan gender yang kuno. Dengan kata lain kesadaran akan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan, khususnya pada masyarakat kita menjadi meningkat yang dibuktikan dengan semakin banyaknya studi tentang gender, perempuan, dan anak. Mengapa kesadaran akan pemahaman gender itu sangat penting? Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut kita harus tau definisi gender terlebih dahulu. Menurut World Health Organization (WHO), gender adalah sifat perempuan dan laki-laki, seperti norma, peran, dan hubungan antara kelompok laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial. Gender berbeda dengan seks atau jenis kelamin. Yang mana, seks atau jenis kelamin adalah sesuatu hal yang dapat diketahui sejak lahir berdasarkan alat kelamin dan bukan terbentuk karena konstruksi sosial masyarakat. Dengan demikian, pandangan gender sejatinya terbentuk oleh masyarakat dan setiap daerah memungkinkan untuk memiliki pandangan gender yang berbeda-beda. 

Pemahaman kita tentang konsep gender yang benar akan mempengaruhi kita dalam membentuk pola relasi dan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Life is Relationship dan kunci utama yang harus dimiliki dalam membangun relasi dengan orang lain adalah saling memahami dan saling menghargai. Dalam prakteknya, hubungan kesalingan ini akan menciptakan kohesi antara manusia satu dengan yang lainnya. Kita tahu bahwasanya budaya patriarkis di Indonesia masih melekat kuat meskipun sudah banyak kampanye dan studi tentang gender. Bahkan rumah tangga ideal masih digambarkan pada media televisi negeri ini bahwa perempuan lazimnya melakukan pekerjaan domestik seperti melakukan pekerjaan rumah, mengurus anak, dan seringkali dinilai tidak perlu bekerja. Sementara itu, laki-laki berkewajiban untuk bekerja yang notabene nya memungkinkan ia untuk terus berkembang, mendapat pengalaman baru, relasi baru, interaksi baru dan menghasilkan secara ekonomi. Narasi media inilah yang pada akhirnya akan melanggengkan mindset kuno masyarakat tentang bagaimana seorang perempuan dan laki-laki seharusnya di dalam rumah tangga. Menurut hemat saya, akan lebih baik apabila asas saling menghargai dan memahami ini diterapkan. Asas kesalingan ini akan menempatkan masing-masing gender pada posisi yang setara sebagai seorang manusia, sehingga akan terbentuk komunikasi dua arah. Melakukan komunikasi artinya mencakup negosiasi dan diskusi yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi (bertukar pikiran). Posisi yang setara tersebut pada akhirnya akan membentuk pola hubungan kemitraan atau yang sering disebut partnership. Partnership akan mendorong kita untuk terus tumbuh, berkembang, dan memiliki orientasi kedepan karena melihat hubungan dari banyak sudut pandang. Selain dari segi emosi dan chemistry, kita tentu akan melihat dari sudut pandang yang realistis dan rasional sehingga memungkinkan terjadinya komitmen jangka panjang antara 2 orang. Selain itu, partnersip juga akan membuat kita memiliki kesadaran penuh terhadap diri sendiri termasuk memahami bahwa kebahagiaan adalah bersumber dari diri sendiri. Masing-masing dari kita perlu bertanggungjawab atas diri kita sendiri, melatih kestabilan emosi, memahami kebutuhan, membuatnya aman dan memiliki kemandirian finansial sehingga akan membuat kita menjadi manusia yang kokoh, hal tersebut juga adalah bentuk tanggungjawab kita terhadap diri sendiri. Kesadaran akan terus berbenah tersebut membuat kita secara tidak langsung telah mempraktekkan cara memahami dan menghargai diri sendiri. Dari sanalah hubungan kemitraan terbentuk, masing-masing individu yang kokoh dan bahagia akan menciptakan hubungan yang bahagia pula. Sehingga pada akhirnya, bagaimana suatu hubungan ingin dibentuk itu tergantung kesepakatan dan negosiasi antara 2 orang yang bersangkutan, dengan memperhatikan asas saling menghargai dan memahami tersebut.

doc : rarasansekerta

-
Aku akan selalu jadi samudera yang luas nan tak terbatas, 
jadi temukan aku saat kau mampu menyelam lebih dalam ke dasar lautan 
Aku akan selalu jadi api yang hangat juga membara, 
maka temukan aku dalam setiap impian dan semangat yang mengalir dalam denyut nadimu
Aku akan selalu jadi dedaunan rindang yang bersahaja, 
jadi temukan aku dalam setiap hembusan nafas dan kesejukan hati yang kau miliki

Aku akan selalu jadi Rara

doc : therumahproperty.com
-
Pada sebuah kesempatan dalam diskusi singkat, seorang dosen menyampaikan pernyataan seperti ini “zona nyaman adalah boomerang, keluar dari sana lalu cari zona aman”. Sayangnya perbincangan kami berlalu begitu saja hingga aku tak sempat bertanya lebih lanjut. Dari pernyataan tersebut lalu muncul banyak pertanyaan dibenakku. Apa iya benar begitu, bagaimana bisa pada akhirnya zona nyaman bisa menjadi boomerang?, Apa hubungan zona nyaman dan zona aman?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawaku pada sebuah artikel dari timesindonesia.co.id berjudul zona aman vs. zona nyaman. Dari artikel tersebut, singkatnya zona aman didefinisikan sebagai tempat kita secara faktual berada dalam kondisi aman. Sedangkan zona nyaman adalah tempat kita dalam kondisi nyaman. Zona aman biasanya nyaman sementara zona nyaman belum tentu aman. Dari sini aku mulai paham bahwa apabila dijabarkan, zona nyaman adalah sebuah kondisi dimana seseorang merasa bebas bahaya dalam menjalani hari-hari, rendah resiko, familiar, tanpa kekhawatiran, namun juga stagnan. Analoginya persis seperti cangkang tempat keong bersembunyi. Lalu bagaimana dengan zona aman? Aku memaknainya sebagai kondisi yang aman, mencakup stabilitas dalam hal apapun, baik psikologis, finansial, kesehatan, karir dll yang pada akhirnya ketika kita mampu mencapai zona aman, secara otomatis kita akan mendapatkan kenyamanan. Barangkali itu dia jawabannya (menurutku). Mungkin para pembaca punya pandangan lain?.

Aku selalu menantikan obrolan-obrolan baru dengan siapapun. Karena bagiku, lewat obrolan tersebut selalu ada hal yang bisa didapat, yaitu informasi, pandangan baru, pengalaman baru, persis seperti menggali harta karun di dasar lautan. Selain itu dalam sebuah komunikasi, secara tidak langsung kita akan mencoba memahami, belajar bernegosiasi, berdiskusi dan menghargai lawan bicara. Bertemu orang baru menjadi experience yang tak dapat tergantikan karena dari sanalah kita dapat melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang. Pun dalam melihat topik berjudul “zona nyaman” ini. Seharusnya berada dirumah, dekat dengan keluarga, kebutuhan tercukupi, fasilitas terpenuhi adalah sebuah definisi zona nyaman bagi banyak orang. Tetapi bagiku sebaliknya, berada pada zona nyaman justru membuatku sangat tidak nyaman. Ada batas besar yang selalu jadi kekhawatiranku dari kecil yaitu ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Barangkali, dua hal tersebut yang selalu jadi bahan bakar pada setiap hal yang aku lakukan hingga sekarang. Berada pada zona nyaman tidak akan bisa membuatku melampaui dua hal tersebut. Bagiku, keluar dari zona nyaman adalah pilihan terbaik, karena disanalah kita ditempa, dapat lebih mengeksplor diri, mendapat banyak pembelajaran, dan memaknai setiap kegagalan sebagai proses dalam bertumbuh sehingga kita jadi manusia yang tahan banting. Bagi teman-teman dan para pembaca, kalian akan selalu menemukan api dalam diriku. Entah itu dalam wujud semangat, ambisi atau sebuah kehangatan untuk orang-orang sekitar. Namun tak jarang jua api itu membara sangat besar hingga rasa-rasanya butuh stabilisator supaya api kembali pada kondisi yang proporsional. Terlepas dari itu, satu hal yang pasti adalah semua membutuhkan proses. Upaya untuk terus berbenah, memahami diri dan terus berusaha mengembangkan diri adalah sebuah bentuk dari proses menuju pendewasaan diri, setidaknya untukku. 


Salam hangat,
Rara Rastri 

doc : google image

-

Barangkali, saat ini kau masih teramat jauh. Tapi satu hal yang pasti, setiap rute yang kita pilih dalam perjalanan ini akan menghantarkan kita menuju satu sama lain. Oleh karena itu, selamat mempersiapkan diri untuk saling menyambut. Akan bertemu kita pada perjumpaan-perjumpaan baru yang tak dapat disangkal alam dan manusia. 

Rara

doc : rarasansekerta
-
Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kejadian. Bahkan disaat kondisi yang sepertinya sulit sekali buat kita bersyukur dan menerimanya. Barangkali apabila dirangkum, kalimat yang tepat untuk menggambarkan tahun 2020 adalah tahun yang penuh kejutan. Bak lagu lama yang masih terus diputar hingga saat ini, pandemi memang jadi kejutan luar biasa bagiku dan mungkin juga teman-teman. Lewat keterbatasan ruang gerak yang ada, secara rill terjadi perubahan-perubahan yang menuntut kita harus melakukan adaptasi kebiasaan baru. Selain dari segi fisik, adaptasi kebiasaan baru tersebut juga termasuk soal perubahan cara berfikir. Secara personal, aku jadi paham bahwa pandemi ini membuatku belajar tentang bagaimana cara mengelola ekspektasi. Tahun ini juga adalah tahunnya self reflection , Kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas seperti biasa dan melakukan hal yang kita cintai seleluasa sebelumnya membuat kita jadi punya banyak waktu untuk melakukan refleksi diri. Dari refleksi tersebut muncul kesadaran-kesadaran baru yang secara nggak langsung berhasil menghantarkanku pada pendewasaan diri. Kehilangan memang jadi hal yang nggak mudah, tapi bukan berarti nggak bisa untuk dihadapi. Misalnya kehilangan waktu dan kesempatan untuk mencapai target sesuai rencana atau kehilangan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan teman-teman. 

Tuhan memang selalu punya cara untuk memberikan pemahaman dengan baik. Pada akhirnya kehilangan-kehilangan tersebut mempertemukanku kepada banyak hal baru, pengalaman baru misalnya; orang-orang baik; orang-orang baru dan pemikiran-pemikiran baru; juga kesempatan baru untuk lebih mengembangkan diri, memahami diri sendiri dan sekitar. Pelajaran berharga lain yang dapat diambil adalah tentang bagaimana aku memahami, lingkungan mana yang terus mendorongku untuk berkembang, dapat menyampaikan kritik saran yang membangun dan jujur, serta teman-teman yang tulus. Pada akhirnya, lingkungan dan pengalaman sejatinya punya andil besar dalam membentuk pemahaman kita terhadap sesuatu. Untuk itu, semoga kita selalu mempunyai keluarga, pasangan, dan lingkungan pertemanan yang mendorong kita untuk terus bertumbuh.

Rara Rastri, 
18 Desember 2020


We are living in our twenties and grow as we go. We still have a long the way to go. There's no rule to how we should roll cause everybody got a life to live, a bond to fix, families, tragedies. Now your eyes are open, your ears are clear, your hearts is ready for the thing you fear. You learn to love, you learn to feel, just be human although it's hard, don't run from it. - Mikha


When you plant seeds in the garden, you don’t dig them up every day to see if they have sprouted yet. You simply water them and clear away the weeds; you know that the seeds will grow in time. Similarly, just do your daily practice and cultivate a kind heart. Abandon impatience and instead be content creating the causes for goodness; the results will come when they’re ready. 
- Bhikshuni Thubten Chodron, “Meditator’s Toolbox”

doc : canva.com

-
Sampai di umur (yang masih) 22 tahun seperti sekarang, aku sangat bersyukur karena jarang banget ditanyain soal kapan nikah sama orang-orang. Karena faktor face kali ya, hahahaha (definisi menolak tua). Yah... sejujurnya aku sangat menikmati berada di fase-fase sekarang, meskipun nggak mudah dan banyak sekali hal-hal yang telah terjadi, seperti gimana rasanya berjuang untuk lulus dengan segala kendala yang ada, gimana caranya biar tetep produktif dan cari uang ditengah pandemi, atau gimana caranya berdamai dengan diri sendiri dan menyikapi hal-hal yang nggak mengenakkan tetapi harus dihadapi. But I enjoy it. Di masa-masa menjelang kelulusan seperti sekarang, pertanyaan dari orang-orang (dan aku sendiri juga sih) yang sering banget muncul adalah “Jadi setelah lulus, apa?”, Jawabannya tergantung. Ada opsi jawaban serius dan enggak, hahaha. Biasanya kalau sama orang-orang dekat atau yang aku udah percaya, bisa aku ceritain rencana dan harapan-harapan sedetail mungkin. Kalau buat yang kepo aja salah satu jawaban yang bisa diberikan, yaitu “ya mau cari kerja” atau “mau meditasi di gunung sampai mati” hahaha (canda gais).

Terlepas dari semua rencana, baik rencana kecil, rencana besar dan rencanaku untuk tidak berencana, kehidupan setelah lulus memang semakin sulit. Benar kata bapak, “satu-satunya orang yang bisa kamu gantungkan adalah dirimu sendiri, (itu) termasuk keputusan-keputusan mandiri yang harus kamu ambil”. Dari sini aku belajar soal kebebasan memilih, kebebasan berpendapat dan kebebasan berfikir. Menurutku, hal yang paling memorable selama hidup bersama keluarga adalah saat-saat ketika salah satu anggota keluarga ada yang memantik pembicaraan soal isu atau peristiwa yang sedang hangat dan pada akhirnya masing-masing anggota keluarga menyampaikan pandangannya. Nggak jarang kami berdebat karena berusaha mempertahankan argumen dengan bukti-bukti pendukung. Hahaha. Itu adalah hal-hal terbaik yang aku dapatkan. Dari hal tersebut, aku akhirnya punya pemahaman bahwa hidup adalah tentang memilih. Dengan memilih kita berarti menggunakan hak kita sebagai manusia yang bebas untuk berfikir dan menentukan hidup kita sendiri. Memilih untuk bahagia, memilih untuk kaya, atau memilih untuk menjadi apa adanya, barangkali.

Pada perjalanan yang aku telah lewati, ‘pilihan’ tersebut yang membuat aku banyak berfikir tentang konsep sukses dan bahagia. Aku melihat bahwa hingga saat ini banyak orang yang mendefinisikan paradigma sukses selalu identik dengan hal yang berbau materiil. Contohnya sukses adalah keadaan dimana kita kaya raya, punya karir yang melejit, eksis di dunia maya maupun riil, punya rumah besar, punya mobil, dll. Begitupun arti bahagia, relative memang. Ada yang mendefinisikan bahagia itu adalah ketika melihat hal-hal kecil; seperti melihat pepohonan rindang, menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, bahagia adalah ketika melihat orang tua bahagia, bahagia itu ketika masuk surga, ada juga yang mendefinisikan bahagia ketika telah berhasil mencapai cita-cita.

Masalah benar atau salah, itu bukan otoritasku untuk membuat penghakiman. Tetapi melalui keputusan-keputusan yang telah aku ambil kemarin, aku sadar bahwa itu adalah sebuah jalan yang menghantarkanku kepada pencerahan (Hahaha lebay banget bahasa nya, tapi mengertilah ya). Jujur saja definisi sukses dan bahagiaku masih bimbang layaknya sebuah jalan yang bercabang dua. Egoku masih kerap berteriak buat mengejar karir secepat mungkin, mendapat pekerjaan sesuai keinginan, ikut projek ini itu, cepet-cepet cari beasiswa, punya hunian hasil kerja keras sendiri, nyenengin keluarga, ketemu sama my mr. right dan masih banyak lagi misi-misi dalam hidup ini. Tetapi di sisi lain, aku bisa banget membayangkan kehidupan yang bahagia adalah kehidupan yang simpel seperti melihat hamparan hijau sawah tiap bangun pagi-pagi, jalan-jalan menikmati udara segar tiap pagi, Mendesain sendiri hunian tempat tinggal yang sederhana sama suami dan punya kebun di belakang rumah buat ditanami sayuran atau buah-buahan organik. Kalau mau masak tinggal ambil bahan dari kebun. Meditasi tiap pagi, punya jadwal latihan bela diri rutin, bikin cupcake dan jus sayur tiap hari sabtu, nyetel lagu keras-keras dan nyanyi sesuka hati, ngoceh ngalur ngidul dan tau pasti bahwa ada seseorang yang mendengarkan dengan senang hati tanpa menjudge. jalan-jalan ke tempat baru, punya rooftop dan bikin agenda rutin nonton bioskop ala-ala sambil minum cokelat panas. Atau masak-masak dan bikin piknik ala-ala sama keluarga kecil nanti.

Meskipun (mungkin) ada hal-hal yang terdengar menye-menye, tapi kedua impian itu selalu hidup dalam mimpi-mimpi aku. Pada hari-hari tertentu kecenderungan hati bisa kekanan dan pada waktu tertentu, ia bisa ke kiri. Tapi, aku akhirnya jadi sadar satu hal, bahwa pikiranku akan selalu condong ke depan, atau sesekali ke belakang, mencoba memperbaiki hari ini lewat pengalaman-pengalaman masa lalu. Dan saat itu juga aku baru tersadar, bahwa sukses dan bahagia, sebenarnya ada di hari ini, bahwa sampai saat ini kita masih mampu terus berusaha dan dapat menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayang.

Selamat malam untuk para pembaca,
Semoga sukses dan bahagia selalu!

 

doc: rarasansekerta


I miss their warmth in my hand. I miss feeling safe in a crowded place, knowing for certain that I will not get lost or abandoned, knowing that I’m with someone who will hold on to my hand until I’m completely safe at home.

I like feeling safe, feeling accompanied. I like feeling someone’s presence near me. Someone who cares, who genuinely will wait for me, come to my diraction, be with me along the way.


Sejauh mata memandang hanya ada hamparan laut yang tenang,
hamparan hijau sawah dan cuaca sejuk pegunungan,
ataupun bintang-bintang, juga bulan purnama yang amat indah untuk dilewatkan.
Tak ada yang lebih damai dari itu.

  



Keterbatasan dalam mengekspresikan emosi membawaku kepada apa yang disebut dengan kegiatan menulis. Ada banyak sekali peristiwa, ide, emosi ataupun keresahan yang tak mampu tersampaikan secara lisan, yang pada realisasinya aku mampu tumpahkan dalam tulisan. Bagiku, menulis adalah proses kreatif dalam menyampaikan emosi secara jujur, merekam kondisi atau pemikiran pada suatu waktu. Melalui tulisan tulisan itu juga pada akhirnya aku dapat melihat perkembangan pendewasaan diri melalui perjalanan psikologis yang telah aku lewati.

Rara Rastri
28 Oktober 2020




Menulis adalah salah satu media untukku dalam mengekspresikan emosi. Keterbatasan dalam hal mengekspresikan emosi membawaku kepada kegiatan menulis. Bentuknya dapat bermacam-macam, menulis puisi menjadi alternatif untuk menyampaikan emosi baik secara tersirat ataupun tersurat. Perumpamaan atau permainan kata menjadi hal yang menarik, setidaknya buatku. Selain puisi, menulis dalam bentuk apa adanya seperti diari juga sering sekali aku pilih. Melalui menulis, ibarat aku mengeluarkan emosi, efeknya sama dengan ketika bercerita, beban dapat sedikit berkurang. Melalui tulisan-tulisan itu juga pada akhirnya aku mampu melihat perkembangan pendewasaan diri melalui perjalanan psikologis yang telah aku lewati. Selain itu, secara tidak langsung pula karya-karya terbentuk. 

Rara Rastri,
26 Oktober 2020




Di antara petang yang sunyi juga musim yang silih berganti

ada tanda tanya besar, dariku.

Telah ku terima bunga, juga paket tanpa nama itu.

Barangkali aku tak pandai membaca.

Ada lagi petunjuk dari jenis yang dapat ku baca?

karena barangkali aku masih tertidur pulas.




Dariku, dini hari.



Beberapa bulan terakhir seringkali aku mengeluh soal hidup, soal hari ini, juga soal segala kesulitan yang sedang aku hadapi saat ini. Aku belum pandai mengerti. Barangkali aku terlalu fokus pada hal-hal yang gagal aku raih, atau mungkin terlalu memikirkan masa depan yang datangnya saja sebenarnya masih lama. Seringkali aku heran, kenapa manusia itu suka sekali antara berharap pada masa depan, atau terjebak pada masa lalu. Jarang sekali kita benar-benar menikmati masa kini. Padahal hal-hal tersebut sebenarnya adalah bahan bakar dari timbulnya kecemasan. Tiba-tiba aku ingat sebuah artikel yang tak lama aku jumpai di sela kegiatan yang harus aku hadapi. Artikel tersebut mengulas tentang filsofi hidup stoicism, sebuah filosofi hidup yang pada intinya berfokus pada dikotomi kendali. Stoicism mengajak kita berpikir untuk mengendalikan segala bentuk emosi negatif. Emosi kita bagaikan kuda, dan pikiran kita adalah penunggangnya. Tanpa pikiran kita, emosi akan liar dan buas, seperti kuda yang berlari liar tanpa penunggang. Penunggang saja tanpa kuda juga sia-sia, tidak bisa melakukan apa-apa. Kombinasi yang harmonis antara keduanya sangat penting untuk menjadikan kita berfikir secara rasional. Pada akhirnya kesadaran itu kembali hadir, sebuah kesadaran yang mendadak menghampiriku saat memandang pepohonan juga dedaunan hijau yang menyambut ku di sepanjang perjalanan menuju Kota Tegal. Sejatinya kita harus memiliki kesadaran penuh terhadap apapun yang kita kerjakan saat ini, fokus kepada apapun yang nyata, yang saat ini kita hadapi, sesuatu yang dapat kita kendalikan. Bukan malah fokus pada hal-hal yang jauh dan tak dapat kita kendalikan. Terlepas dari itu semua, kita sebagai manusia pastinya merasakan berbagai emosi entah itu marah, sedih, senang, takut, terkejut dan banyak lagi. Menerima emosi-emosi tersebut pada akhirnya akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, juga sebuah cara bagaimana kita memahami diri sendiri sebagai sebuah insan yang utuh.

Rara Rastri,
28 September 2020



Kalau sudah tua nanti, aku ingin tetap bersamamu. Berbincang banyak hal, berjalan beriringan dan berbagi apapun satu sama lain. Lalu sesekali kita akan mengingat masa-masa dimana kita ditempa, dibentuk dan berhasil menemukan diri sendiri. Saat-saat yang penuh petualangan itu menjadi bagian yang amat manis untuk dikenang. Atau saat-saat bagaimana kita bertemu?. Ah, semoga omonganku yang ngelantur seperti ini kelak bukan jadi masalah buatmu. Bahkan siapakah gerangan dirimu saja aku belum mampu membayangkan. Entahlah aku ngantuk. Aku masih sangat muda saat tulisan ini dibuat dan masih harus belajar banyak.

Rara Rastri,
4 September 2020.   



Hidup ini singkat dan katanya cuma sekali. Jadi terlalu rugi rasanya kalau dihabiskan dengan hal-hal yang menjadikan aku benci dengan hidup. Segala yang dikerjakan dengan setengah hati tidak sepatutnya diperjuangkan lagi. Maka kalau memang hidup dianalogikan sebagai sebuah perjuangan, perjuangkanlah dengan sepenuh hati (walaupun menurutku hidup ini nggak melulu soal perjuangan). Untuk bisa mencapai tahap itu, artinya aku harus bisa berdamai dengan diri sendiri dahulu yang adalah susah. Dan dengan kemampuan itu, peran apapun yang aku mainkan di dunia akan bisa aku hayati sehingga pada akhirnya menjadi sesuatu yang berarti. Jadi… kalau memang hidup ini punya arti, semoga itu adalah titik temu antara menjadi diri sendiri dan kesempatan untuk bisa terus berbagi. Begitulah kiranya yang aku pahami.

Rara Rastri, 
4 September 2020





Semoga selalu menemukan jalan, juga cahaya yang tak pernah padam.
Walau diluluh lantah, walau menemui terjal.
Berdiri kokoh, bersahaja, dan tetap membumi.

Semoga tetap mampu berfikir jernih, di tengah kebisingan.
Menjaga diri, dan senantiasa bertumbuh.
Terbang bebas tetapi selalu menemukan jalan untuk pulang.

Semoga…
Selalu mampu berbincang soal apapun, sampai kapanpun.


Rara Rastri, 
1 Juli 2020
dok. rarasansekerta
-
"Susah mau jalan kalau kaca helm-nya berkabut", begitu katanya. Barangkali yang dimaksud itu kaca helm-nya tertutup embun karena udara dingin, jadi terlihat berkabut. Atau memang kaca helm-nya jernih saja, cuma jalanan berkabut. Entahlah.,

Aku pikir kaca kita memang penuh embun di sepanjang akhir perjalanan ini, suasananya sejuk cenderung dingin. Bahkan terkadang aku hampir tidak bisa bernafas karena cuaca yang amat dingin dan jalanan yang tak menentu. Beberapa waktu ini kita melihat cahaya yang saat ini telah menghantarkan kita ke tempat yang lebih hangat. Sial, butuh beberapa saat untuk membersihkan embun-embun itu dari kaca helmku. Aku tidak tahu denganmu, tapi aku akan berusaha untuk membersihkan milikku, membiarkan cahaya matahari pagi yang hangat itu masuk perlahan. Disaat itulah aku bisa bernafas kembali.

Rara Rastri, 
26 Juni 2020
Newer Posts Older Posts Home

From Author

It's all about everything on Rara's mind.

POPULAR POSTS

  • Run
  • Kamu Tahu?
  • Aku

Blog Archive

  • June (1)
  • March (1)
  • January (1)
  • December (5)
  • November (2)
  • October (5)
  • September (3)
  • July (1)
  • June (4)
  • May (1)
  • April (1)
  • December (2)
  • November (2)
  • September (3)
  • February (1)
  • December (1)
  • October (1)
  • September (1)
  • August (1)
  • April (2)

Label

  • Personal
  • Kontemplasi
  • Opini
  • Artikel
  • Kutipan
  • Poem
Rastri Rara. Powered by Blogger.

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates | Created By Rara Rastri